Relevansi Tradisi Manjau Maju dalam Hukum Islam pada Masyarakat Adat Lampung Saibatin (Studi Desa Kubu Batu, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran)

Authors

  • M Risqi Siswanto Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
  • Zuhraini Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
  • Muhammad Haidir Syah Putra Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Bandar Lampung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/jsmd.v4i3.1234

Keywords:

Manjau Maju, Lampung Saibatin, 'Urf, Hukum Islam, Perkawinan Adat

Abstract

Tradisi Manjau Maju merupakan bagian dari perkawinan adat Lampung Saibatin yang berfungsi memperkenalkan pasangan yang telah menikah, terutama pengantin perempuan, kepada kerabat dan lingkungan pengantin laki-laki. Penelitian terdahulu lebih banyak membahas Manjau Maju sebagai kearifan lokal, nilai pendidikan, atau praktik budaya-linguistik, sedangkan kajian empiris mengenai relevansinya dengan hukum Islam di Desa Kubu Batu masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan Manjau Maju dan menganalisis kesesuaiannya dengan prinsip hukum Islam. Penelitian menggunakan metode lapangan kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan sosio-legal. Data primer berasal dari wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat, serta didukung literatur ilmiah mutakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Manjau Maju dilaksanakan setelah perkawinan sah, tidak menjadi syarat sah perkawinan, dan dapat diselenggarakan secara sederhana atau lebih besar sesuai kemampuan ekonomi keluarga. Nilai utamanya meliputi pengakuan sosial, pencegahan fitnah, silaturahmi, gotong royong, penghormatan tamu, dan tanggung jawab kolektif. Dalam perspektif ‘urf, karakter tersebut menempatkan Manjau Maju sebagai adat yang dapat diterima sepanjang bersifat sukarela, tidak memberatkan, dan bebas dari praktik yang dilarang syariat. Kebaruan penelitian terletak pada pemaknaan Manjau Maju sebagai mekanisme legitimasi sosial pasca-akad yang komplementer dan berbasis kemampuan, bukan penentu keabsahan perkawinan.

References

Asnawi, H. S., Nawawi, M. A., Mahmudah, S., & Alamsyah. (2024). The concept of maşlaḥah family in Lampung customary law: A study of Mak Dijuk Siang and its relevance to Indonesian marriage law. Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya, 9(1), 104–121. https://doi.org/10.25217/jf.v9i1.4710

Baihaqi, Y., Kasdi, A., Farida, U., & Maraliza, H. (2022). The marriage of indigenous peoples of Lampung Saibatin in the perspective of Islamic law and tafsir of gender verses. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 6(1), 310–330. https://doi.org/10.22373/sjhk.v6i1.12493

Bimasakti, A. Z., Rahmawati, & Budiman. (2026). Tradisi hari baik dalam perkawinan adat Bugis Pinrang: Analisis hukum Islam dan eksistensi ‘urf dalam praktik sosial. Jurnal Al-Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam, 11(1), 1–13. https://doi.org/10.52802/wst.v11i1.2128

Bukido, R., Harun, N., Gunawan, E., & Mantu, R. (2022). Harmonization of customary and Islamic law in the gama tradition of the Muslim Mongondow community of North Sulawesi. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 22(2), 239–254. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v22i2.239-254

Firnando, F., Anwar, C., & Syafe’i, I. (2023). Khazanah pendidikan Islam berbasis kearifan lokal: Analisis nilai dalam tradisi Manjau-Maju perkawinan adat Lampung Saibatin. Hikmah, 20(1), 13–30. https://doi.org/10.53802/hikmah.v20i1.198

Hidayatullah, S. S., Shella, G., & Huda, N. (2023). Urgensi tradisi Naikkah Rasan dalam perkawinan adat Semende. El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law, 4(1), 92–103. https://doi.org/10.24042/el-izdiwaj.v4i1.16759

Ibrahim, J., Ma’u, D. H., & Ulya, N. H. (2023). Islam Nusantara dalam prosesi Besurung pra perkawinan perspektif ‘urf. ADHKI: Journal of Islamic Family Law, 5(1), 59–72. https://doi.org/10.37876/adhki.v5i1.122

Irawan, O. P., Hidayat, E., & Putra, M. H. S. (2026). Analisis hukum Islam terhadap implikasi sistem pewarisan mayorat laki-laki bagi perempuan dalam masyarakat adat Lampung Pepadun. Justicia Sains: Jurnal Ilmu Hukum, 11(1), 675–693. https://doi.org/10.24967/jcs.v11i1.5270

Izhar, I., Rokhman, F., Rustono, & Pristiwati, R. (2023). Linguistic etiquette of serving food in local wisdom of Indonesia’s Manjau Maju Lampung tribe society. Cogent Arts & Humanities, 10(1), 2183610. https://doi.org/10.1080/23311983.2023.2183610

Jafar, W. A., Al Fandi, A. S. A. A., Alqudah, M. A., Fauzan, & Alsharu, A. (2026). Piil Pesenggiri: Local living law between enforcing and diminishing fiqh al-munākaḥāt. AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial, 21(1), 218–244. https://doi.org/10.19105/al-lhkam.v21i1.23823

Janeko, & Wahidah, U. (2024). Tradisi perhitungan weton dalam perkawinan adat perspektif ‘urf. HOKI: Journal of Islamic Family Law, 2(1), 61–72. https://doi.org/10.55352/hki.v2i1.891

Jayusman, Efrinaldi, & Shafra. (2023). Local wisdom equality in marriage of gold entrepreneurs in Kasui Pasar Village. Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah, 21(1), 104–119. https://doi.org/10.30984/jis.v21i1.2341

Jinan, M. S., Hidayah, M., & Wardah, S. (2023). ‘Urf dalam pernikahan adat Banjar perspektif Abdul Wahab Khallaf. Mitsaqan Ghalizan, 3(1), 45–59. https://doi.org/10.33084/mg.v3i1.5452

Pelangi, I., Abunawar, H., Saputra, R. B., & Pribadi, A. K. (2024). Perkawinan adat Saibatin dalam perspektif hukum positif Indonesia. Muhammadiyah Law Review, 8(2). https://doi.org/10.24127/mlr.v8i2.3566

Putri, A. H., Anwar, A., Feronika, E., Vidieyanti, N., Piaroga, N. D., Anggraini, N., Salsabila, R., Pitoewas, B., & Halim, A. (2024). Hukum adat: Pemberian gelar adok dalam pernikahan adat Saibatin Desa Bulok Kalianda. Qawanin Jurnal Ilmu Hukum, 5(1), 32–44. https://doi.org/10.56087/qawaninjih.v5i1.469

Rakhmat, M. F. I., Farudin, M., Hanjayanto, S. D. P., Fazhilla, A., Darusman, A., & Munawaroh, A. (2025). Analisis hukum perkawinan adat masyarakat Desa Pulau Buaya Alor dalam sistem kekerabatan adat ditinjau dari perspektif hukum Islam. Federalisme: Jurnal Kajian Hukum dan Ilmu Komunikasi, 2(1), 29–47. https://doi.org/10.62383/federalisme.v2i1.480

Ramadhan, I. S., Faizal, L., & Hidayat, E. (2026). Tinjauan hukum keluarga Islam terhadap peranan kebuayan dalam prosesi acara adat perkawinan masyarakat Lampung Way Kanan (Studi di Kebuayan Barasakti Kecamatan Pakuan Ratu). At-Tasyrih: Jurnal Pendidikan dan Hukum Islam, 12(1), 558–565. https://doi.org/10.55849/attasyrih.v12i1.549

Saraswati, A., Zuhraini, & Syukur, I. (2022). Tinjauan hukum Islam terhadap tradisi Tetapol dalam perkawinan adat Lampung Saibatin dan implikasinya terhadap keharmonisan keluarga di Kabupaten Lampung Barat. Al-Maqashidi: Jurnal Hukum Islam Nusantara, 5(2), 28–40. https://doi.org/10.32665/almaqashidi.v5i2.1321

Saraswati, A., Bulan Siregar, L. S., & Parut, W. (2024). Customary authority in the Deduaian tradition of Lampung Saibatin marriage from Islamic legal perspectives. USRATY: Journal of Islamic Family Law, 2(2), 144–152. https://doi.org/10.30983/usraty.v2i2.8688

Saraswati, A., Tunnur, M. A. Z., & Mahdin, M. (2024). Perkawinan metudau dalam kewarisan pada masyarakat Lampung Saibatin menurut hukum Islam. El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law, 5(1), 69–85. https://doi.org/10.24042/el-izdiwaj.v5i1.23094

Sofiana, A., Sinta, P. A., Gumiri, E. R., & Musa, N. (2022). Tradisi Segheh dalam perkawinan adat Lampung perspektif ‘urf dan maslahah mursalah. El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law, 3(2), 73–92. https://doi.org/10.24042/el-izdiwaj.v3i2.15231

Sudrajat, M. F., Azizah, & Nurholis, I. (2023). ‘Urf dalam tradisi Nemokke pada pernikahan adat Jawa. Jurnal Hukum Keluarga dan Administrasi Keperdataan Islam, 1(1). https://doi.org/10.15408/jhk-aki.v1i1.31202

Tsany, M. D., Masykuroh, Y. W. R., & Gumiri, E. R. (2026). Tinjauan hukum Islam terhadap larangan menikahi wanita Shotel dalam masyarakat adat Jawa (Studi di Desa Sumber Arum Kecamatan Kotabumi). Justicia Sains: Jurnal Ilmu Hukum, 11(1), 562–581. https://doi.org/10.24967/jcs.v11i1.5355

Wafiroh, H., Zuhraini, & Miswanto. (2026). Perkawinan ngakuk khagah adat Lampung Saibatin dalam perspektif hukum keluarga Islam dan implikasinya terhadap keharmonisan keluarga. QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, 4(4), 1846–1855. https://doi.org/10.58738/qanun.v4i4.1336

Widodo, S., Idayati, S. R., Sinaga, R. M., Adha, M. M., & Gadeng, A. N. (2023). Tradisi Sedaduwaian: Budaya pernikahan tradisional Saibatin Lampung. JPG (Jurnal Pendidikan Geografi), 10(1). https://doi.org/10.20527/jpg.v10i1.15276

Yarmunida, M., Yusmita, Zurifah, Romadhon, A., & Al-Sobh, M. A. (2026). Revisiting Masuk Kaum: Contextualising local custom in contemporary Islamic family law through ‘urf and maṣlaḥah. MILRev: Metro Islamic Law Review, 5(2), 1025–1046. https://doi.org/10.32332/milrev.v5i2.13045

Zulkifli, Z., Zikri, A., Artiningsih, D. W., Zainuddin, Z., & Helim, A. (2024). Revitalizing ‘urf in state legal development: The case of Minangkabaunese marriage traditions. Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam, 9(2), 841–862. https://doi.org/10.29240/jhi.v9i2.11034

Published

2026-10-10

How to Cite

Siswanto, M. R., Zuhraini, & Putra, M. H. S. (2026). Relevansi Tradisi Manjau Maju dalam Hukum Islam pada Masyarakat Adat Lampung Saibatin (Studi Desa Kubu Batu, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran). Jurnal Siber Multi Disiplin , 4(3), 83–96. https://doi.org/10.38035/jsmd.v4i3.1234